NASIHAT orang tua di rumah dan guru di sekolah mengajarkan bahwa menabung di bank adalah kebiasaan baik, bermanfaat, aman,dan menguntungkan karena akan mendapatkan bunga secara periodik.
Dengan suku bunga yang terus turun sementara biaya administrasi justru naik, apakah menabung di bank masih menguntungkan? Jika tidak cermat, tabungan Anda di bank bisa habis seperti pengalaman seorang kenalan saya. Tabungannya sebesar ratusan ribu rupiah habis, padahal dia tidak pernah mengambilnya.Seiring tingginya biaya operasional dan kualitas pelayanan, sah-sah saja jika bank menaikkan biaya administrasi untuk para penabungnya. Apalagi jika kita memahami bisnis bank dengan dua sumber pendapatan utamanya yaitu keuntungan dari selisih bunga pinjaman atas bunga simpanan dan fee-based income.Contoh dari fee-based income adalah kini meminta referensi bank, transfer ke bank lain, cetak mutasi rekening koran, buka rekening, tutup rekening, ganti buku tabungan, atau ganti kartu ATM semuanya dikenakan biaya. Intinya, untuk setiap pelayanan dan jasa yang diberikan, bank akan mengenakan biaya sebagai sumber pendapatannya.Ingin tahu lebih banyak tentang ini, saya pernah mencari informasi seputar KPR atau refinancing KPR yang ditawarkan sebuah bank swasta besar terkemuka. Ternyata biaya-biaya yang dikenakan kepada debitor sangat banyak yaitu biaya appraisal, administrasi KPR, provisi, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, cek sertifikat, biaya notaris (PK dan APHT), serta akta jual beli dan balik nama.Total biaya ini mencapai 4,46 persen dari jumlah kredit. Dengan embel-embel fee-based income, bank memanfaatkan ketidakberdayaan nasabahnya yang hanya dapat pasrah menerimanya.Mencari Jumlah PeriodeKembali ke cerita tabungan yang habis.Kita sebenarnya dapat menghitung dengan pasti kapan tabungan seseorang akan habis. Ini adalah persoalan mencari "n" atau jumlah periode yang membuat sejumlah dana/utang (PV) akan habis atau lunas jika diambil/dibayar sejumlah tertentu (PMT) sama besar setiap periodenya pada suku bunga (rate) tertentu.Sebagai ilustrasi pertama, seorang pensiunan mempunyai uang Rp200 juta dari hasil kerjanya selama 30 tahun. Dana itu disimpannya di sebuah bank yang memberikan bunga bersih enam persen pa, dengan bunga dihitung setiap bulan dan tidak ada biaya administrasi. Jika untuk keperluan biaya hidup dia mengambil Rp4 juta setiap bulannya, dalam berapa lama uang itu akan habis?Jika Anda menjawab 50 bulan, logika keuangan Anda belum terasah. Dengan matematika keuangan, kita akan mendapatkan jawaban yang be-nar yaitu 57,7 bulan. Dengan excel, kita dapat menghilangkan satuan juta dan cukup mengetikkan ’=n per (0.5%,-4,200)’ kemudian tekan enter.Ini berarti pensiunan itu dapat mengambil uang sejumlah Rp4 juta setiap bulannya selama 57 bulan. Pada bulan ke- 58,dia masih dapat mengambil uangnya untuk terakhir kalinya. Namun, jumlahnya tidak sampai Rp4 juta. Berapa besar pengambilan terakhir itu juga dapat dihitung dengan logika matematika keuangan, tetapi tidak bisa langsung atau tidak begitu mudah sehingga tidak dibahas di sini.Dengan menggunakan kalkulator finansial, dalam sepersekian detik kita juga akan mendapatkan hasil yang sama yaitu 57,7 bulan. Perhatikan kalau uang Rp200 juta itu akan habis dalam 50 bulan jika tidak mendapatkan bunga.Sebagai ilustrasi kedua, seorang eksekutif membeli sebuah TV LCD 54 inch seharga Rp10 juta dengan kartu kredit. Untuk pelunasan tagihan kartu kreditnya, dia akan mengangsur sebesar Rp1 juta setiap bulan. Dalam berapa bulan, tagihan kartu kredit akan lunas jika dia dikenakan bunga 3,5 persen per bulan?Untuk menghitung jumlah bulan angsuran yang diperlukan, kita melakukan langkah yang sama seperti di atas. Sekarang PV = Rp10 juta, 1/Y = 3,5%, dan PMT = -Rp1 juta. Jika kita meng-input variabel-variabel di atas ke dalam kalkulator finansial, kita akan mendapatkan angka 12,5.Ini berarti, eksekutif tadi harus membayar sebanyak 13 bulan. Sebanyak 12 bulan, dia harus mengangsur penuh sebesar Rp1 juta.Pada angsuran ke-13, dia masih punya kewajiban mengangsur, tetapi tidak sebesar Rp1 juta. Dengan excel, kita cukup mengetikkan ’=nper( 3.5%,-1,10)’ untuk memperoleh 12,5.Saldo Akan HabisSetelah memahami dua ilustrasi di atas,mestinya tidak ada yang aneh dengan kasus tabungan di bank menjadi habis. Misalkan suku bunga tabungan hanya sebesar tiga persen pa atau 2,4 persen pa bersih setelah pajak atau 0,2 persen per bulan. Sementara biaya administrasi dan kartu ATM per bulan adalah Rp10.000.Inilah biaya minimum bulanan bank yang saya alami untuk tabungan yang saya miliki sementara biaya bulanan tabungan lainnya Rp12.500. Selama bunga yang dihasilkan tabungan itu tidak cukup untuk membayar biaya administrasi, tabungan itu akan habis walaupun tidak ada pengambilan.Saldo tabungan akan stabil jika besar tabungan adalah Rp10.000/0,2 persen atau Rp5 juta. Saldo tabungan akan meningkat (berkurang) setiap bulan jika tabungan lebih (kurang) dari Rp5 juta.Asumsikan tidak ada setoran tabungan kecuali saldo awal. Jika saldo tabungan awal Rp500 ribu, dalam 52,7 bulan tabungan akan habis.Kita hanya perlu mengetikkan ’=n per(0.2%,-10,500)’ dan enter. Dengan saldo awal Rp300 ribu, tabungan akan habis dalam 31 bulan. Pada praktiknya, bank yang saya datangi di atas ternyata tidak membayarkan bunga untuk saldo di bawah Rp1 juta dan bunga tiga persen pa diberikan hanya untuk saldo tabungan di atas Rp100 juta.Hitungan menjadi jauh lebih mudah yaitu tabungan akan habis dalam 50 bulan untuk yang Rp500 ribu dan 30 bulan untuk yang Rp300 ribu. Kalau sudah begini, mana ada yang percaya lagi kalau menabung di bank bisa membuat kita kaya? Tips dari saya, jangan mencari bank yang biaya administrasi bulanannya besar.Mulailah menabung di bank jika simpanan Anda sudah di atas Rp1 juta atau Rp5 juta dalam kasus di atas, kecuali jika Anda rela saldo tabungan Anda terus turun meskipun tidak pernah diambil. Jangan juga menaruh dana berlebihan di tabungan, maksimal untuk tiga bulan pengeluaran, karena tabungan berbunga rendah. (Budi Frensidy Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan)(Koran SI/Koran SI/and)
Komentar
Posting Komentar